Cerita di drabble ini semua cerita ringan, konfliknya juga hanya sedikit. Tapi dimohon yah, COMMENT nya…
So, Let’s Read !!!
A Guitar – SunSun ( Sungmin – Sunny)
Seorang perempuan keluar begitu saja tanpa pamit kepada ibunya yang berada dirumah, raut wajahnya dipenuhi kekesalan yang dia sendiri tak bisa mengendalikannya. Dengan dibalut oleh jacket tipis, kaos, celana selutut dan sepasang sepatu kets dia keluar begitu saja tanpa mempedulikan cuaca yang begitu dingin saat ini. Dengan kakinya dia berjalan tanpa tahu arah yang akan ditujunya, hanya dia senditi yang bisa memberhentikan dirinya sendiri dari kekacauan yang sedang melandanya. Dia terus berjalan, walau angin dingin terus masuk kedalam kulitnya, malah hampir ke tulang. Dia sama sekali tak memperdulikan dirinya sendiri.
Tanpa dia sadari seseorang telah mengikutinya, membuntutinya begitu jauh dia melangkah. Gadis itu masih terus melangkahkan kakinya entah kemana, semua pertokoan sudah dia lewati dan tak ada satupun dari pertokoan itu dia datangi. Kalau saja pria itu tak peduli dengan gadis itu, mungkin sudah dia tinggal dan tak akan peduli lagi, tapi keadaannya bukan seperti itu. Pria itu sangat peduli dengan gadis itu.
Gadis itu tiba-tiba berhenti disebuah pemakaman dekat kota. Dia berhenti sejenak didepan sana.
Pria itu juga ikut berhenti. Dia melihat papan yang berada diatas. Pemakaman! Sesaat itu juga, dirinya bergidik ngeri membaca nama itu. Kalau saja ini siang, pasti dia akan memberanikan dirinya. Dan masalahnya sekarang adalah saat ini jam menunjukkan jam 9 malam. Bagaimana dia tak merasa takut?
Gadis itu akhirnya mulai melangkahkan kakinya, tepat saat dia pintu gerbang, dia berhenti begitu saja. Pagar besar itu digembok, mana mungkin gadis itu bisa masuk ke dalam sana, dan menemui sosok yang berada disana.
Dari jarak tak begitu jauh dari gadis itu, pria yang berdiri disana itu tampak melepaskan napas kelegaan. ‘untunglah’ batinnya.
Tapi berbeda dengan gadis itu, wajahnya tampak begitu murung setelah mengetahui dia tak akan bisa masuk kedalam sana sampai besok pagi. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari sana, pergi lagi entah kemana, mengikuti kakinya.
Kembali, pria itu mengikutinya, sampai akhirnya pria itu berhenti saat gadis itu memandangi gedung yang menjulang tinggi didepannya. Sebenarnya, pria itu tak ingin berpikiran buruk, tapi sang gadis lah yang membuatnya selalu berpikiran buruk.
Ingin rasanya, dia menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan membuat gadis itu tenang. Tapi kenyataannya berbeda, dia dan gadis itu begitu jauh.
Saat gadis itu ingin masuk, sang pria langsung berlari dan menariknya. Membuat gadis itu terkaget dan hampir berteriak.
“Oppa” gumam gadis itu, saat mendapati wajah pria yang dia kenal.
Pria itu tersenyum, melonggarkan cengkramannya pada pergelangan gadis itu. “Sunny, mau apa kau?” nada halus-khawatirnya terdengar.
“Aku…” gadis bernama Sunny itu nampaknya masih sedikit shock mendapati pria itu berada didepannya sekarang.
“Pulang, pasti ibumu akan khawatir padamu” ajak pria itu, tapi sepertinya Sunny tak ingin mendengar perkataan itu. Wajahnya yang shock tadi berubah menjadi wajah yang diselumuti kebencian “Jangan seperti itu. Dia juga ibumu!” ucap pria itu lagi.
“Sungmin oppa, tak akan mengerti! Dia ibu yang jahat,” elak Sunny, nadanya sedikit berteriak.
Sungmin mengelus rambut pendek gadis itu, “Kalau dia jahat, tak mungkin dia membesarkanmu sampai sekarang.”
Sunny sedikit terhentak dengan perkataan Sungmin. Mengingatkannya dengan seseorang yang juga pernah mengatakan seperti itu juga. Ayahnya yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Pikirannya kembali pada beberapa tahun lalu, dimana sang ayah sedang sekarang, sedangkan ibunya tak berada disana.. sibuk dengan pekerjaan yang begitu menumpuk dan itulah yang membuat Sunny muak akan ibunya.
“Dia…”
“ Dia akan selalu menyayangimu, walaupun dia sibuk. Dia sibuk demi kebaikanmu Sunny”
Sungmin tersenyum lagi, tak ingin membiarkan gadis itu bersedih lagi. Akhirnya, dia menarik gadis itu menuju pertokoan yang ramai, dimana semua orang berkumpul disana. Sungmin berhenti didepan seorang pemain gitar jalanan. Dia tampak mempunyai ide yang bagus.
Sungmin menghampiri pria separuh baya itu dan meninggalkan Sunny yang tak jauh dari sana. Sedikit bisikan dan uang yang diberikan Sungmin, pria paruh baya itu memberikan gitarnya pada Sungmin.
Sunny menyerngit heran, melihat Sungmin yang sekarang menggantikan pemain gitar jalanan itu. Tapi akhirnya dia tahu, setelah mendengar petikan gitar itu telah melantunkan sebuah lagu yang dia ketahui.
Sungmin mulai bernyanyi. Suaranya yang khas itu seakan memenuhi pendengaran dan pikiran Sunny, membuat gadis itu sedikit memperlihatkan sedikit demi sedikit memperlihatkan senyumannya.
Karena permainan yang begitu mengagumkan semua orang akhirnya menghambur kearah mereka, medengarkan bait demi bait yang keluar dari suara emas milik Sungmin. Mereka sepertinya begitu terhipnotis oleh suara merdu Sungmin.
Sunny kembali tersenyum. Entah apa yang telah membuatnya kembali tersenyum. Lagu yang dilantunkan orang itu atau kah Orang yang sedang memainkan gitar itu…
A Flute – Siwon and Tiffany
Suara flute itu terdengar oleh telinga dari pria tampan itu, membawanya menuju ruang musik yang sudah ditutup karena sekolah sudah usai dari 5 menit yang lalu. Pria itu tak sengaja berhenti diruang musik karena niatnya ingin pergi ke toilet yang tak jauh dari ruang musik itu.
Lantunan flute itu semakin didengar semakin membuatnya begitu terkagum dengan yang memainkannya. Alat pendengerannya, ditempelkan pada pintu besar itu, sehingga dia bisa sejelas mungkin mendengarkan suara manis itu
Disaat ia sedang benar-benar menghayati permainan flute itu, tiba-tiba suaranya terhenti dan hilang begitu saja. Dahinya mengerut, sedikit aneh dengan ini.
Dia menunggu, berharap permainan flute itu akan bermain lagi dengan lagu-lagu yang indah. Tapi wajahnya begitu kecewa setelah beberapa menit berlalu, permainan itu tak dilantunkan lagi oleh sang peniup.
Akhirnya dia lebih memilih pulang dan tadi jadi dengan tujuan awalnya, yaitu :toilet pria.
Keesokkannya lagi, pria itu dengan sengaja menunggu didepan ruang musik itu lagi, menunggu permainan flute yang begitu menenangkannya. Tapi sayang… sedaritadi tak ada suara yang menggema dari ruangan sana. Begitu sepi.
Dia hanya bisa menghela nafasnya, berbalik badan dan ingin segera pergi dari sana. Tapi… suara itu menahannya lagi, suara itu mulai terdengar dari dalam sana, dia segera berbalik dan mendengarkannya.
Karena dia begitu penasaran siapa yang memainkan flute itu, akhirnya dia berjalan menuju jendela kaca lebar yang tak berada jauh dari pintu.
Betapa terkejutnya dia, melihat seorang gadis cantik dengan rambut tergurai membuat kesan indah saat dia bermain. Dan dia kenal dengan siswi tersebut.
“Mi young,” dia bergumam, menyebutkan nama gadis itu. Sudah beberapakali dia mengedipkan matanya tanda tak percaya, bahwa Mi young lah yang memainkan flute itu.
Mi young terkenal dengan gadis yang selalu menindas orang lain, selalu bersikap kasar pada siswi lain yang menentangnya. Tapi saat ini Mi young yang terkenal dengan sikap “Jahat” itu seperti wanita lembut yang apa adanya.
Pria itu berlari menuju pintu kembali, membuka pintu itu perlahan.
Dengan langkah hati-hati dia menghampiri gadis yang bermain flute itu. Menikmati setiap tiupan yang begitu menenangkan hatinya.
Permainan flute itu berhenti sesaat lagu itu juga sampai part yang terkahir. Gadis itu membalikkan badannya dan sangat terkejut mendapati seorang pria yang sedang berdiri disana tanpa dia ketahui dari tadi.
“Sejak kapan?” gadis itu bertanya, nadanya sedikit tergagap.
Pria itu sedikit maju, “dari tadi. Permainanmu sangat bagus, membuatmu terkesan lembut.”
Gadis itu sedikit mundur, “Jangan beri tahu siapapun! Siwon!”
Pria itu tersenyum dan mengangguk, “Tentu saja tidak. Tapi ini sangat berbeda dengan kebiasaanmu sehar-harinya… seperti dua kepribadian”
Mi young sedikit menyerngit, sedikit tersinggung dengan perkataan siwon-pria itu- tapi dia juga tak bisa mengelak dari pernyataan itu, karena memang, diluar dia begitu jahat. Dan dia harus mengakuinya.
“permainan flute sangat indah, tapi bisakah kau membawa permainan flute menuju dunia bebas. Berubahlah menjadi baik, kalau kau ingin tenar disekolah bukan ini caranya”
Mi young tersentak, dia lebih sedikit mundur dari tempatnya. Ingin segera loncat dari jendela dan pergi dari tempat ini. Tapi kakinya tak mau menurutinya, dia masih berdiri disana dan terdiam.
“Jangan seperti itu. Buatlah dirimu seperti bermain flute itu, dan akan mendapatkan kebahagiaanmu.. ketenaranmu”
Keesokkan harinya, semua murid begitu tercengang dengan kedatangan siswi perempuan yang baru saja memakirkan sepedanya. Semua murid tak begitu percaya dengan perubahan siswi itu.
Seorang pria dibalik kerumunan siswa-siswa yang mengerubungi, terlihat tersenyum senang atas perubahan dari Mi young. Perkataan yang simple nan menyentuh itu bisa juga membuat Hwang Mi young siswi paling jahat disekolah ini berubah menjadi siswi yang baik dan selalu tersenyum.
Mi young berjalan tanpa keangkuhannya yang ada sekarang hanyalah senyuman yang selalu menghiasi wajahnya. Mi young yang memperhatikan sekitar, melihat sosok Siwon yang berdiri dikerumunan itu. Hanya senyuman terima kasih yang bisa diberikan olehnya pada Siwon.
Pria itu bisa mengubahnya dengan kata-kata yang begitu simple, tapi bisa membuatnya bisa berubah menjadi seperti ini. Dan saat ini, dia sudah menjadi dirinya sendiri, tanpa harus memakai topeng wanita jahat yang begitu ditakuti oleh semua siswa disekolah ini.
—
“Terima kasih,” ucap Mi young saat dirinya duduk disamping Siwon.
Taman belakang sekolah, adalah tempat yang mereka janjikan tadi.
“Tak seharusnya berterima kasih, aku hanya ingin membantumu” jawab Siwon memperlihatkan senyuman dan memperlihatkan lesung pipinya yang begitu menawan.
Mi young hanya tersenyum, matanya menerawang jauh ke langit. Ada rasa menyesal telah melakukan kesalahan dulu, tapi saat ini dia merasakan kebahagiaan seutuhnya. Dan baginya ini berkat pria yang bernama Siwon itu.
—-
Dance Waltz – Haesica ( Donghae – Jessica )
“I’m tired!” keluh gadis berambut brown yang saat ini sedang tersungkur dibawah. Keringat mengucur dari dahinya, sudah berulang kali dia mengulang gerakan yang salah dan satu lagi kendalanya, dia tak mempunyai pasangan untuk kompetisi dansa kali ini.
Gadis itu masih belum berusaha berdiri, dia sudah terlalu capek jika harus berlatih lagi sendirian. Lantunan musica yang terdengar dari mp3nya juga sepertinya sebentar lagi akan berhenti dikarenakan batreinya sebentar lagi habis.
Karena begitu akhirnya dia mengambil mp3 playernya dari saku dan membuang jauh-jauh ke tempat duduk penonton.
Dia menangis. Dia sudah capek! Lebih baik dia mundur, itu lah yang berada dipikirannya sekarang.
Bunyi sepatu menggema keseluruh ruangan, dia mendongak , matanya menemui sosok pria sedang berjalan perlahan menuju panggung kayu itu. Wajahnya terlihat kaget saat matanya menangkap sosok pria itu.
“Donghae…” gumam gadis itu saat sosok itu sudah sepenuhnya dia lihat sekarang.
Pria itu menghampiri, wajahnya tak memperlihatkan apapun. Dia berjongkok untuk bisa sejajar dengan gadis itu, tangan terulur untuk membantu gadis itu berdiri.Tapi gadis itu masih terdiam, dia masih kaget dengan kedatangan dirinya.
“Jessica,” panggil sang pria menyebut nama gadis itu Sekarang senyuman mulai terlihat dari wajah pemilik nama Donghae itu.
“Kau tak bersama Yoona?” gadis itu-Jessica- masih belum menerima uluran tangan dari Donghae.
“Tidak. Dia sudah mempunyai pasangan yang lain. Jadi aku memlih kau” kata Donghae dengan santai, senyuman kini terlihat lebih jelas dibanding yang tadi.
“Tidak perlu. Aku sudah ingin mundur” Jessica menepis uluran tangan Donghae, dan mencoba berdiri sendiri, tapi tak bisa kakinya baru saja terkilir.
Dengan cepat Donghae memapahnya untuk berdiri, tapi Jessica tetap bersikeras untuk berdiri hasilnya: Dia tak bisa berdiri sendiri, walaupun telah berusaha semampunya.
“Jangan suka seperti itu. Oke, aku minta maaf” kata Donghae, masih berusaha untuk mencoba memapah Jessica.
“Kau kira aku apa? Setelah kau dicampakkan yang lain, kau baru datang padaku?!” tatapan sinis itu terpancar dari wajah lelah Jessica, matanya yang tajam tertuju pada Donghae.
Donghae kembali tersenyum, “ Aku minta maaf! Ini salahku, seharusnya aku tidak menomor dua kanmu, karena kau adalah sahabatku”
Jessica membuang muka. Kalau sudah begini saja, baru menyesal!
“Jung, Tolong dengarkan aku. Aku benar-benar minta maaf, kau mau menjadi pasangan dance waltz ku?” Donghae menarik senyumannya, walau wajahnya sekarang begitu tenang tapi hatinya ingin Jessica menerimanya.
Jessica memandangi Donghae, matanya terpaku pada mata pria muda itu. Mencari suatu kebenaran yang benar disana, mencari ketulusan akan laki-laki itu.
—
Lantunan flute, biola dan piano berada menjadi satu menjadi sebuah lagu nan merdu mengiringi sepasang manusia yang sedang berdansa dengan santainya ini. Semua orang terkagum akan mereka berdua.
Langkah damai nan indah it uterus diperlihatkan kepada semua penonton yang berada diruangan itu. Putaran pelan dan senyuman yang terus tergambar diwajah mereka, melengkapi suasana romantic itu.
Satu tiupan flute lagi, lagu itu akan selesai dan diakhirnya. Sang pria menahan tubuh wanita itu dengan lengannya yang kekar.
Suara tepuk tangan penonton yang berada disana, mengakhiri dance waltz mereka. Semua penonton itu terkagum atas kerja keras mereka.
—
“kau benar-benar penari hebat” kagum Donghae pada Jessica yang sedang duduk dibangku taman.
“Tidak. Tapi Kau” Jessica sedikit tak nyaman, dikagumi sepertti.
Donghae ikut duduk disamping Sica, pakaian mereka berdua masih sama seperti saat perform tadi. “Tidak. Itu kau!”
Jessica hanya bisa menghela nafas, percuma diteruskan, toh, dia tak akan pernah menang dari perdebatan ini. Akhirnya dia berdiri dan ingin pergi, tapi tangan Donghae terlebiih dahulu mengait tangannya.
“Jangan pergi dulu. Ada yang ingin aku jelaskan”
Jessica tak berbalik, “Apa? Bukankah masalah sudah selesai? Ah, aku lupa, aku berterima kasih padamu. Terima kasih atas semuanya” Ucap Jessica, berusaha melepaskan tangannya dari jeratan tangan Donghae.
“Bukan itu.”
Jessica kali ini berbalik, “Apa yang akan kau bicarakan, huh” sikap dinginnya belum mencair sedari tadi.
“Kau perlu tau alasanku, mengapa menjadi pasanganmu. Itu… itu karena aku mencintaimu! Aku berbohong padamu tentang Yoona! Dan kau lihat tadi, betapa mesranya Yoona dengan Kibum! Aku menjauhimu karena ingin tahu perasaanmu”
Jessica tak berkutik sama sekali, matanya membulat seketika itu juga. Wajahnya berubah menjadi merah sekarang. Darahnya seperti menyusut, jantungnya seakan berhenti saat itu juga. Pernyataan Donghae benar-benar membuatnya begitu ….. shock!
“Jessi” Donghae berdiri, mensejajarkan tingginya dengan Jessica, dia lebih sedikit menunduk. “Jess, jiwamu masih diragamu kan?” tangannya menarik Jessica dan membalikkan gadis itu agar bisa melihatnya.
“k-kau.. bercanda” Jessica berusaha menghilangkan gugupnya. “Itu tidak mungkin! Kau selalu dekat dengan Yoona, dan tak mungkin kau menyukaiku”
“Mendekati Yoona hanya ingin kau cemburu! Kau tak menyadarinya” jawab Donghae.
Jessica menyerngit, memandang sebal ke arah Donghae. “Jangan bercanda!”
“Aku serius, Jung Sooyeon!” Dengan langkah cepat, pria itu dengan santainya memeluk Jessica tanpa izin gadis berambut brown itu. “Aku benar-benar serius. Aku-Mencintai-Mu”
“D-d-donghae” tanpa gadis itu sadari, tangannya mulai membalas pelukan Donghae, membuat mereka semakin dekat.
Mungkin, gadis itu juga merasakan apa yang di rasakan Donghae saat ini. Dan dia tak menyadarinya sampai sekarang. Pelukan itu cukup terasa hangat dirasakannya, seperti tak ingin melepaskan diri.
“Jika kau belum bisa menerima. Aku akan menunggumu” bisik Donghae ditelinga gadis itu.
Jessica hanya terdiam, dia masih menikmati pelukan yang hangat itu. Dan Jujur memang, dia juga belum bisa memjawabnya sekarang…
Donghae melonggarkan pelukannya sekarang, “ kau ingin berdansa?”
Jessica mengangguk, menerima uluran tangan Donghae untuk berdansa sekali lagi ditaman yang sepi itu. Hanya ditemani bunga dan rembulan yang menyinari diatas mereka.
Gimana Nih ? Puas gak ? kalau udah dibaca Minta Komentar atau pendapatnya dong ..
KamsahamNida !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar